Acid Speed Band
Gig Seeker Pro

Acid Speed Band

Jakarta, Jakarta Raya, Indonesia | SELF

Jakarta, Jakarta Raya, Indonesia | SELF
Band Rock Classic Rock

Calendar

This band hasn't logged any future gigs

This band hasn't logged any past gigs

This band has not uploaded any videos
This band has not uploaded any videos

Music

Press


"Idol Imitation"


IN THIS ISSUE
Menikmati Idola Imitasi
26-02-09, 09:45
Ketika menyaksikan musisi idaman semakin jauh dari kenyataan, cover band jadi pilihan. Teks oleh Soleh Solihun Foto oleh Drigo L Tobing


Gitaris itu memakai celana jeans dengan lubang di banyak bagian celananya. Sedikit di bawah lututnya, tertempel logo lidah The Rolling Stones. Kemeja berwarna merah mudanya dibiarkan tak terkancing. Di dalam kemeja itu, dia masih memakai kemeja yang tiga kancing atasnya dibiarkan terbuka. Matanya memakai eyeliner. Sesekali gitar Fender Telecaster-nya dimainkan di samping badannya, dengan posisi kaki sedikit nyaris berjongkok. Tangannya ke atas beberapa kali setelah memetik gitar. Penggemar The Rolling Stones akan langsung tahu gerakan siapa yang dia tiru: Keith Richards.

Kamis lewat pukul sepuluh malam, 11 Desember 2008, Planet Hollywood, Jakarta. Meja-meja di ruangan itu terisi penuh oleh lelaki dan perempuan di atas umur pertengahan dua puluh. Ba-nyak dari mereka masih memakai pakaian kerja. Dari mejanya, mereka menggo-yang-goyangkan kepala dan pundaknya. Sesekali mengangkat gelas dan bersulang dengan teman di meja. Di panggung, Acid Speed sedang memainkan lagu-lagu The Rolling Stones.


Vokalis mereka memakai celana ketat dengan motif seperti burung merak. Dia hanya memakai rompi tanpa baju lagi di baliknya. Rambutnya panjang menutupi telinga, tapi masih belum menyentuh bahu. Bibirnya dimonyong-monyongkan. Pinggulnya bergoyang sambil merentangkan tangannya. Sesekali dia melompat. Jika dilihat sekilas, Anda bakal melihat nuansa Mick Jagger di sana, terutama di bagian bibirnya yang lebar. Ini biasa terjadi di band yang membawakan lagu-lagu The Rolling Stones. Anda bakal melihat Keith Richards dan Mick Jagger generik versi lokal. Rupanya di Indonesia, ba-nyak sekali orang dengan wajah yang bernuansa Mick Jagger.


Satu jam lebih Acid Speed membawakan lagu-lagu The Stones, tapi penonton masih saja tak beranjak dari meja dan asyik menikmati bergelas-gelas minum-an. Hanya ada dua meja yang terlihat lebih meriah. Menari-nari di atas kursi, sambil berteriak kegirangan mendengar lagu kesukaan mereka dinyanyikan. Sebagian besar hanya duduk tersenyum, sesekali mereka bernyanyi bersama, dengan hafalan lirik seadanya. Baru beberapa menit kemudian, beberapa orang melangkah ke depan panggung. Berdansa dengan iringan lagu-lagu The Stones.
“Sekarang kami akan membawakan lagu sendiri. Ini judulnya ‘Cold Cold Night’. Saya harap Anda suka,” kata vokalis itu.

Penonton tak banyak bereaksi ketika lagu itu dibawakan. Mereka masih asyik di mejanya. Seperti tadi, hanya menggoyangkan kepala dan bahu sambil menikmati minuman. Dan mereka mulai sedikit menggila lagi ketika lagu-lagu The Stones kembali berkumandang.
“Saya rasa, Anda semua tahu lagu ini,” kata vokalis. Gitaris dengan penampilan seperti Keith Richards memainkan intro dari lagu “You Can’t Always Get What You Want” yang pertama kali dirilis dalam album Let It Bleed (1969).

You can’t always get what you want...
You can’t always get what you want...

Vokalis itu bernyanyi dengan aksen Inggris tiruan. Penonton menyanyikan bait lagu itu dengan penuh semangat. Seakan disadarkan pada kenyataan, bahwa me-reka tak bisa selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sadar bahwa sebagian besar dari mereka tak bisa melihat The Rolling Stones yang asli, melihat imitasinya saja sudah cukup.

“Who the fuck is Mick Jagger?” kata tulisan di kaos merah cerah yang dipakai lelaki itu. Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Boy Jagger, vokalis Acid Speed. Rambut dan wajahnya tak bermandikan keringat seperti terakhir kali saya melihatnya pada acara Rolling Stones Night beberapa bulan lalu. Suatu sore pada 21 Januari 2009, Acid Speed mengunjungi kantor Rolling Stone. Boy datang terakhir. Dia selalu kesulitan mencari arah jalan, kata teman-temannya. Gitaris berpenampilan seperti Keith Richards sore itu datang dengan pakaian kerja: kemeja tangan panjang dan celana bahan. Tanpa eyeliner, penampilannya jauh berbeda seperti ketika dia di atas panggung. Keith Richards wannabe itu bernama Holdun. Selain Boy dan Holdun, ada drummer Ading, gitaris Heri, keyboardist Anto serta bassis Agus.

Juli 1982, Acid Speed Band didirikan oleh para pelajar yang sebagian besar adalah alumni SMA 6 Jakarta. Rico Korompis, vokalis pertama mereka, menyarankan nama Acid. Holdun menyumbang nama Speed, lantas jadilah nama band mereka Acid Speed Band. Awalnya mereka tak hanya memainkan lagu-lagu The Rolling Stones, tapi juga The Beatles. Setelah tampil pada 5 Desember 1982, dalam sebuah acara peringatan ulang tahun The Rolling Stones yang digelar di Taman Ismail Marzuki, image The Rolling Stones melekat kuat di diri Acid Speed Band. Bahkan ketika beberapa kali mereka tampil membawakan lagu-lagu sendiri, penonton malah meminta me-reka memainkan lagu-lagu The Stones.
“Mereka senang juga, goyang-goyang [sama lagu kami], tapi pas turun panggung, penonton bilang, ‘Jangan bawain itu, bawain “Satisfaction” dong. Yang galak-galak.’ Besok-besok kami manggung bawainnya Rolling Stones, sampai pakaiannya diikuti,” kenang Holdun.

Lagu-lagu The Stones membawa me-reka keliling Jawa, bahkan hingga ke Bali dan Makassar. Mereka bermain di lapang-an terbuka. Ini yang membedakan panggung Acid Speed sekarang dengan dulu. Sekarang, acara Rolling Stones Night atau Tribute to The Rolling Stones, atau apapun itu nama acara-nya, biasa digelar di kafe-kafe, tempat yang jauh lebih kecil dibanding panggung mereka dulu. Pertengahan ’80-an hingga ’90-an, jadwal Acid Speed Band sangat padat. Di manapun mereka tampil, lagu-lagu sendiri tak jadi favorit penonton. Yang penonton inginkan hanya satu: melihat Acid Speed Band menjadi The Rolling Stones versi lokal. Di era yang hampir bersamaan, Cikini Stones Complex juga cukup dikenal sebagai band yang identik dengan The Rolling Stones, tapi drummer mereka, Bimbim, buru-buru membubarkan CSC setelah mengetahui image- The Stones di CSC terlalu kuat, dan mengubah nama mereka menjadi Slank.

Tahun 1989, seorang pria bernama Handoko, yang juga memiliki sebuah event organizer meminta Acid Speed Band membuat album. Album perdana Acid Speed Band dirilis dengan judul Julia di bawah perusahaan rekaman Harpa Record. Asumsi Ading, album mereka sudah dicetak dua kali, dengan satu kali cetak sebanyak dua puluh ribu kopi. Tapi Harpa Record mengatakan kaset mereka tak laku. “Tapi saya mencari ke beberapa tempat, ternyata laku. Sempat ada acara- festival musik, lagu wajibnya punya kami,” kata Holdun.

Karena jadwal tur yang padat serta permintaan dari penonton untuk selalu membawakan lagu-lagu The Stones, me-re-ka tak pernah memperhatikan perkembangan album dengan baik. Bahkan la-poran penjualan album saja tak pernah mereka terima. Ditanya soal pendapatan dari album, mereka hanya tertawa. Yang jelas, meskipun merilis album sendiri, ima-ge The Stones tak bisa dilepaskan dari Acid Speed Band.

“Musiknya pun amburadul. Jelas me-reka berada di ambang ambigu. Antara ingin menjadi copycat The Stones dan ingin menjadi band berjati diri dengan lagu-lagu yang sebagian besar ditulis oleh Ipang dan Rico Korompis. Jadi aneh,” begitu kata kolektor dan jurnalis musik Denny Sakrie soal album itu.
“Suasana zaman kali ya. Dulu kan masa mereka berjaya, zamannya imitator berjaya. Lagu sendiri nggak laku, sekarang eranya band rekaman lagu sendiri,” kata Boy mencoba menganalisis.

Hingga kini, Acid Speed Band masih sering diundang tampil untuk membawakan lagu-lagu The Stones. Karena Rico Korompis dianggap sering terlalu sibuk karena pekerjaannya di perusahaan minyak yang membuat dia harus dua minggu di darat dan dua minggu di laut, pada tahun 2005 Acid Speed Band mencari vokalis baru. Salah satu vokalis yang diaudisi adalah Boy.

“Sebenarnya nggak pisah [sama Rico]. Cuma biar meraup pasar yang lebih luas aja. Ekspansi,” kata Ading sambil tertawa. “Berapa kali mau tampil, dia selalu sibuk. Sampai sekarang sibuk,” tambah Holdun.

Sekarang ada dua band dengan nama Acid Speed. Versi Holdun dan Ading memakai nama Acid Speed. Versi Rico Korompis dan Ipang [gitaris angkatan pertama] memakai nama Acid Speed The Rolling Stones Experience. Versi Holdun dan Ading sempat memakai nama The Lidah selama beberapa kali manggung, tapi karena mereka sadar nama itu menjijikkan, tak lagi digunakan.

Nyaris bersamaan dengan masuknya Boy, Acid Speed bertemu Natalie Ste-wart, perempuan berkebangsaan Kanada yang sudah enam tahun tinggal di Jakarta. Natalie langsung jatuh cinta begitu pertama kali melihat Acid Speed tampil. Dia lantas menjadi produser album yang hingga tulisan ini dibuat sudah rampung tapi belum jelas tanggal rilisnya. Album yang mereka beri judul Namanya Juga Rock N’ Roll itu berisi lagu-lagu baru Acid Speed formasi terkini. Pengaruh The Stones era ’70-an terasa kental di sana.

“Anda merasa mirip Jagger?” tanya saya pada Boy.
“Ah, nggak. Gue seneng saja. Orang kalau sudah seneng, PD saja. Untuk tampang sih, lebih asyik Rico lah. Tapi Jagger kan milik semua orang. Mungkin orang Afrika kalau jadi Jagger, bisa saja di-bonding. Semua orang begitu membawakan Rolling Stones merasa mirip Jagger. Istilah Holdun tuh begitu. Begitu kita manggung, selama dua jam jadi orang gila. Begitu turun panggung jadi orang normal lagi,” jawab Boy.
“Belum, besoknya baru normal lagi. Soalnya masih pusing,” Ading menyambar ucapan Boy seraya tertawa.
“Bangun! Bangun dari mimpi!” Holdun menyambung seraya tertawa.
“Gua lihat dulu konser Stones sebelum manggung, jadi auranya masuk. Seperti kerasukan. Begitu pake baju panggung ya sudah, jadi orang lain. Kayak Holdun, kalau kerja jalan biasa saja. Tapi begitu pakai baju panggung, jalannya miring! Penjiwaan. Gua pikir itu penting. Kita manggung kan ingin total. Orang nonton puas, beli tiket. Bisa nggak bisa, gua harus jadi Jagger! Itu beban dari imitator,” kata Boy.

“Bagaimana Acid Speed melihat acara tribute sekarang?” tanya saya.
“Dulu karena di GOR, dan tempatnya besar, penontonnya ramai banget. Benar-benar enak. Ramainya minta ampun. Kafe oke juga, cuma lebih...” kata Holdun.
“Yang nyekokin lebih banyak. Dulu kan nggak ada yang nyekokin, bawa sendiri,” Ading menyambar.
“Udah nggak gelas lagi, tapi botol,” Holdun tertawa.
“Dengan album ini, kalian ingin melepas image sebagai cover band Rolling Stones?” tanya saya.

“Hmmm... gimana ya,” Ading sempat berpikir beberapa detik, “tapi gua cinta banget sama Rolling Stones. Dua puluh empat tahun bawain Rolling Stones. Nggak mungkin bisa hilangin image-nya. Sebenarnya nggak niru-niru juga. Dulu, saya benar-benar hafalin. Setelah ke sini, mengalir begitu saja. Sudah nggak ditiru-tiru lagi. Akhirnya ya seperti itu.”

“Mungkin iya. Jangan lihat Rolling Stones-nya. Lihat karya sendiri saja. Mudah-mudahan disukai sama orang. Terus mau mengubah image-nya ya. Walaupun mungkin di album sembilan baru bisa,” kata Holdun tertawa.

“Kalau elo nggak sukses di rekaman, elo jadi cover band saja. Banyak bisnis yang menghasilkan di dunia musik: arranger atau jadi pengajar. Di sini tuh kurangnya itu, kadang orang obsesinya rekaman, ngetop. Nah kalau nggak, obsesinya ketinggian, nanti jadi konyol,” kata Doddy Katamsi.



Selanjutnya baca edisi 47
1 2 3
Comments

- Rolling Stone Magazine


"Acid Speed Gets Original"



| The Jakarta Post
Saturday, February 14, 2009 1:31 PM
Scrubbing off the moss: Acid Speed gets original

Morgan Harrington, CONTRIBUTOR , JAKARTA

Its name is rock’n’roll: The members of Acid Speed (from left) Herri, Holdun, Boy, Ading, Agus and Anto. JP/Ricky YudhistiraIts name is rock’n’roll: The members of Acid Speed (from left) Herri, Holdun, Boy, Ading, Agus and Anto. JP/Ricky Yudhistira

To see them live you would never guess how shy the members of Acid Speed really are.

The lead singer, affectionately known only as “Boy”, is a spectacle in himself, swaggering around cocksure as the Jagger of yesteryear and making it his duty to energize the crowd, while the rest of the group rocks in lockstep, turning on a dime as only a group together nearly three decades can.

But away from the crowd, on a lazy evening before a rehearsal session, the band is the very picture of lethargy.

You might remember Acid Speed from their heyday as Indonesia’s most in-demand Rolling Stones cover band of the 1980s. They first formed in 1982 when guitarist Holdun, bassist Agus and drummer Ading got together over – what else? – a love of The Rolling Stones. Jakarta was a different place back then, smaller and less diverse, and this was reflected in the music scene.

Today’s indie set were still in nappies and demand for the classics ruled clubs and airwaves alike. Acid Speed thrived in these conditions and soon played to venues packed with audiences 20,000-thick in cities across Java, Bali and even Sulawesi.

“We used to play a Rolling Stones cover band night and we would always close the night because we were the best,” Holdun recalls.

Their first venture into originals — Julia in 1988 — did not go down as well.

“We tried playing the songs off Julia in our live set, but it wasn’t taken very well,” Holdun said, adding, “It’s hard to make the transition from covers to originals.”

No one was keeping close track but the band estimates that Julia, released through Harper Records, sold a modest 40,000 copies.

A second attempt was made with 2005’s Bebeas. The group was not satisfied with the results and the material was shelved.

“People just loved hearing The Rolling Stones songs, that is what they we’re used to hearing us do and that is what they expected from us,” Ading said.

An indefinite hiatus was soon called, after several line-up changes, culminating with original lead singer Rico quitting, “to get a ‘real’ job”, among the general fatigue.

But right now, it seems the classics are in higher demand than ever. Earlier this week Robert Plant, who will always be best known as Led Zeppelin’s front man, took home this year’s Grammy for album of the year for Raising Sand, a collaboration with 26-time Grammy-winning artist Alison Krauss. 2007 saw the one-time-only reunion of the remaining members of Led Zeppelin and Pink Floyd – both the subject of constant rumors that tours will follow. In 2008 the Police did their first world tour in 23 years (The Stones, of course, haven’t rolled anywhere).

With the release of their new album, Namanya Juga Rock’n’Roll – “hopefully next month” – Acid Speed is paddling out once again on their established name to ride this retro wave. The current line-up is rounded out by Herri on guitar and Anto on keys.

“Holdun has a big following from the 80s. People come to the gig just to harass him,” band manager Natalie explains. “He’s the Indonesian Keith Richards,” jokes Boy.

The new album contains five English tracks and three in Indonesian and is, naturally, heavily influenced by the rhythm and blues flavor of the Rolling Stones, but also contains reggae and hard rock sounds.


“We played modern blues, modern love songs. Our guitar sounds and arrangements are new,” Boy said, adding, “We feel very good and have a lot of self confidence about the new album.”

This time around, Acid Speed’s originals are getting a better response. You may have heard the single “Cold, Cold Night” on TRX FM or Automotion FM lately. The band say that not only are the new songs welcomed at gigs, but are actively requested. In an innovative move uncommon for bands in Indonesia, Namanya Juga Rock’n’Roll will be released as a double CD/DVD, featuring the band’s new video and other goodies.

“We found it difficult with Julia but now we’re really making the transition from covers to originals,” Holdun says – the third time, as they say, is a charm.

But it is the live show that has sustained Acid Speed through the ups and downs.

“When I see the reaction of the audience I love it,” Holdun says. “We play from our hearts to the audience and it is their reaction that keeps us going.”

The Boy has taken to imitating his idol to the point of ecstatic candor. “When I sing on stage I tell myself it will be my last show, so I have to make it the best one so that everyone will remember it,” he says, adding with great gusto, “I will sing to the death!”

You can check Acid Speed out at either of their two distinct haunts, Eastern Promise (tonight) or one of their more raucous, locals-only engagements in the underbelly of Blok M. “Just don’t tell Mick Jagger,” Holdun jokes. “We’re not paying for the songs.”


- The Jakarta Post


"Acid Speed's Third Album"


Hot News


Senin, 21 Desember 2009 21:00 WIB     

Album Ketiga Acid Speed Dilempar ke Pasaran

Oleh : Soleh Solihun

Setelah tiga puluh tahun membawakan lagu-lagu The Rolling Stones, bahkan ketika merilis lagu sendiri pun, mereka masih bangga sebagai band cover version. 

Lagu “It’s Only Rock N’ Roll [But I Like It]” dari The Rolling Stones berkumandang di MU Cafe, Sarinah Thamrin, Jakarta, Senin [21/12] pukul setengah empat sore itu. Yang menyanyikan, tentu saja bukan Mick Jagger, tapi seseorang berwajah dan berlenggak-lenggok menyerupai Mick Jagger. Boy Jagger nama vokalis itu. Di sebelahnya, seorang gitaris dengan gaya bermain gitar yang oleh penggemar The Rolling Stones bisa mudah dikenali bahwa gayanya terpengaruh berat oleh Keith Richards. 

“Mau lagu apa nih? Mau kami bawain lagu Rolling Stones lagi, atau bawain lagu sendiri?” kata Boy, bertanya pada para jurnalis di depannya.

Yang ditanya diam saja. Suasana MU Cafe terlihat cukup lengang. Hanya ada beberapa belas media massa yang mengirimkan jurnalisnya ke sana. Acid Speed mengadakan peluncuran album ketiga mereka, yang diberi judul Namanya Juga Rock N’ Roll. 

“Lagu Rolling Stones lagi aja ya,” kata Boy sebelum akhirnya mereka membawakan “Honky Tonk Woman.” 

Acid Speed berdiri pada tahun 1982, lantas terkenal menjadi salah satu band yang rajin dan apik membawakan lagu-lagu The Rolling Stones. Band ini kemudian melejitkan duet Rico Corompies dan Holdun sebagai Mick Jagger dan Keith Richards-nya Indonesia. Sempat merilis album perdana, Julia [1989], tapi tak sukses di pasaran. “Waktu tur, penonton nggak mau nonton kami bawain lagu sendiri, jadinya ya udah bawain Rolling Stones aja,” kata Holdun.  Dalam perjalananya, Rico Corompies yang terlalu sibuk dengan pekerjaanya, akhirnya mengundurkan diri. Holdun dan drummer Ading akhirnya meneruskan Acid Speed dengan mencari vokalis baru lewat audisi hingga mereka bertemu Boy. 

Padahal, di akhir ’80-an itu, Acid Speed rajin manggung dari satu kota ke kota lain di Indonesia. Jelly Tobing, yang hadir pada saat konferensi pers, mengingatkan kembali atau menginformasikan pada jurnalis yang belum tahu. Di masa jayanya, Acid Speed bersama Bharata Band—yang terkenal sebagai band cover version khusus The Beatles, di mana Jelly menjadi drummernya—serta Cockpit dengan Genesisnya, adalah tiga nama yang merajai panggung. “Dalam sebulan, kami bisa manggung lebih dari tiga puluh kali,” kata Jelly, yang sepertinya diundang dalam konferensi pers itu sebagai narasumber untuk memperkuat status Acid Speed.

“Kalau kita ingin membawakan duplikat lagu orang lain, kita harus all out! Hidup mati kita harus dengan itu,” kata Jelly Tobing penuh semangat. 

Setelah sempat bergonta-ganti personel [Holdun menyebut tiga puluh orang pernah keluar masuk Acid Speed], formasi terkini Acid Speed adalah: gitaris Holdun, vokalis Boy, kibordis Anto, gitaris Heri, bassis Agus, dan drummer Ading. Di siaran persnya, Acid Speed masih bangga dengan imej The Stones yang melekat di dirinya. “Yang masih konsisten sampai hari ini menjadi cover version Rolling Stones tinggal Acid Speed,” kata gitaris Holdun.

Seorang jurnalis bertanya soal ini, kepada Boy. Rupanya, jurnalis itu pernah mewawancarai Boy ketika dia menjadi vokalis di sebuah band pop bernama Sotja. Ketika diwawancarai waktu itu, Boy berkata bahwa banyak penyanyi di Indonesia yang tak mau jadi dirinya sendiri. Si jurnalis menyindir Boy yang seperti tak mau jadi dirinya sendiri, dengan bergabung dengan Acid Speed dan bernyanyi seperti Mick Jagger.

“Waktu itu, semua Cuma masalah album. Itu proyek saudara, sama sekali nggak pake hati. Kalaupun gue dulu ngomongnya gitu, ya kepentingan bisnis aja. Di Acid Speed, gue enjoy aja jadi diri gue. Di band lama, gue belum tentu manggung meskipun ada album. Tapi kalau di Acid Speed, belum ada album aja, jadwal manggung gue lebih banyak,” kata Boy terkekeh. 

Panggung juga yang mempertemukan Acid Speed dengan Natalia, seorang perempuan berkebangsaan Kanada, yang melihat penampilan mereka di Eastern Promise, sebuah cafe di Kemang, tiga tahun lalu. Natalie yang penggemar The Rolling Stones, langsung jatuh hati, hingga kemudian berakhir jadi produser dan mendanai pembuatan album ketiga mereka. “Saya percaya mereka orang-orang yang super berbakat. Saya pikir, kalaul album ini dirilis, ini akan jadi album yang sukses,” kata Natalie. 

Tahun 2005, Acid Speed pernah merilis album Free, tapi tak sukses di pasaran. Dan kini, mereka ingin mencoba peruntungan mereka. “Di album ini, kami berusaha lebih smart. Ada yang kami bikin buat komunitas, ada juga yang kami bikin dengan pertimbangan pasar, tapi nggak terlalu menye-menye. Lagunya yang asik buat dibawain di tongkrongan lah, mudah diingat,” kata Boy menjelaskan soal konsep musik mereka. 

Siaran persnya, memberi salah satu highlite bahwa mereka ingin video klip “Cold Cold Night” yang dibuat oleh Kubil Idris dari The Upstairs bisa tayang di televisi. Tapi Ading mengklarifikasi soal itu, dengan mengatakan bahwa itu hanya salah satu poin. “Harapan terbesar kami, ya tetep eksis bawain lagu sendiri, juga bawain lagu The Rolling Stones," kata Ading.  


- Rolling Stone Magazine Online


"Namanya Juga Rock N Roll Review"

|
• Republika Koran


Selasa, 24 November 2009 pukul 11:22:00
Acid Speed Band, Namanya Juga Rock N Roll

Tak perlu mengejar-ngejar konser Rolling Stones di luar negeri, yang saat ini pun kian sukar manggung akibat makin didera usia. Jika hanya ingin memutar rekaman benak kepada masa-masa kejayaan 'dwi tunggal' Mick Jagger-Keith Richards, seharusnya Anda tak melewatkan pentas M Point di Jumat 920/11) malam lalu.

Sekian putaran jam di malam itu Acid Speed Band berhasil membantu penonton memutar ulang pita rekaman di kepala mereka. Sekian banyak lagu Stones malam itu terlantun--ah bukan, menggelegar tepatnya. Termasuk (I Can't Get No) Satisfaction yang malam itu melontarkan penonton dari bangku-bangku mereka. Berjingkrak meningkahi riuh musik yang diracik para musisi veteran di hadapan mereka.

Veteran? Mungkin tidak tepat untuk para jawara yang tampak masih (ingin) terlihat muda itu. Tetapi bagaimanapun rekam jejak tak memungkinkan mereka menafikan bahwa Acid tergolong senior diantara band-band yang masih eksis saat ini. Acid didirikan Juli 1982, lebih dari seperempat abad lalu. Bukankah jika para penonton yang hadir di M Point pekan lalu datang dari generasi-generasi di bawah mereka, itu merupakan bukti betapa Acid cukup berjaya?

Lihatlah, Holdun, gitaris yang di sampai tekukan kaki dan betotan gitar nyaris merupakan copycat Keith Richards. Juga dengan tarikan kuat eye liner di garis matanya. Tak tampak ada kelelahan akibat usia diperlihatkannya di pentas. Atau drummer Ading yang seolah kembali menjelma remaja saat memukul drum dan cymbal dengan gairah menyala. Begitu pula Heri (gitaris), Anto (keyboardis) serta tentu saja sang Mick Jagger kita, Boy.

Tetapi tak semua lagu yang dinyanyikan merupakan milik Stones. Apalagi pergelaran itu sendiri dihelat untuk merilis ke pasaran album kedua mereka,'Namanya Juga Rock N Roll'. Ini album Acid setelah bertapa sekian lama. Bayangkan, album pertama mereka,'Julia', menerobos pasar pada 1989 alias dua puluh tahun lalu!

Pada album yang diproduseri Natalie Stewart, perempuan Kanada yang telah tingal cukup lama di Jakarta, itu berjejer sebelas lagu. Tujuh di antaranya berbahasa Inggris. Ada 'Cold Cold Night','Low Low Low','Ode to Uncle Jack', 'To be Free', dan 'Better Place' sebagai contoh. Sementara 'Liar', 'Pasti' dan 'Gerimis' memakai bahasa sendiri.

Tetapi tentu saja, lagu-lagu itu pun kental bernuansakan Stones."Ya bagaimana tidak, lebih dua puluh lima tahun bawain Rolling Stones," kata Ading. Yang jelas, namanya juga rock n roll... darmawan


- Republika


Discography

Julia (1989)
Bebas (2005)
Namanya Juga Rock n Roll (2009) has played on various radio stations in Indonesia. Our track 1 song, Cold Cold Night was selected for rotation on several rock radio internet stations in the US as well.

Photos

Bio

Acid Speed has a long history in Indonesia. Dating back to the early 80's Acid Speed has always been the best Rolling Stones Tribute band. Our original material on our latest album, Namanya Juga Rock n Roll is heavily Stones influenced but our own unique sound also shines through. Our music is pure rock instrumentally utilizing the classic sounds of harmonica, keyboards and slide guitar to secure our classic rock status.